Powered By Blogger

Rabu, 19 Januari 2011

Ritual Jailankung Versi Cina di Bangka Belitung

Apa yang kamu pikirkan jika kamu mendengar ada seseorang atau sekelompok orang mengadakan acara untuk mengundang arwah atau yang sering di sebut juga JAILANGKUNG?

Ya... mungkin kamu akan berpikir ini sangat konyol, karena di jaman yang sudah modern masih ada juga yang percaya dengan yang namanya hantu, setan, jin atau sejenisnya.

Budaya orang timur memang sarat dengan yang namanya mistik warisan leluhur.Tidak heran jika di masyarakat kita terdengan adanya ritual yang dapat mengundang arwah dan sejenisnya.

Salah satu ritual pemanggilan arwah yang paling mudah dilakukan adalah dengan menggunakan media boneka yang biasa di sebut jailangkung.

Karena ritual jailangkung bisa di lakukan oleh siapapun asalkan bisa membaca mantera-mantera pengundangnya.

Disini penulis menemukan adanya berbagai versi dan tata cara yang berbeda dalam ritual pemangilan arwah yang di sebut jailangkung ini.Mungkin ini pengaruh dari adat dan budaya masyarakat setempat.

Kali ini penulis akan mengulas sedikit tentang ritual pemanggilan arwah yang berasal dari pulau bangka (khususnya yang biasa dilakukan oleh orang keturunan tionghoa/cina) dan biasanya di sebut CU SI PAK ME.

Thai lam sin, thai lam fa...
Pat nyet sip ng chiang nyi ha loi kau jit ja...
oi loi tu loi, ng ho jit sin khi ngoi ngoi...
oi hi tu hi, ng ho jit sin ta liong thi...
cuk jap co son pun nyi cho, ten sim tham khiau pun nyi ko
thai pa so si oi nyi nak, se pa so si oi nyi jung
kim ci hiong cuk chiang nyi loi, kim ci hiong cuk chiang nyi con

Arti dalam bahasa indonesia kira-kira seperti ini:

Jin keranjang besar, keranjang bunga besar
Bulan 8 tanggal 15 (penanggalan imlek) undang kamu turun untuk bermain 1 malam
Mau datang ya datang jangan berdiri terpaku
mau pergi ya pergi jangan memberontak
daun bambu buat kapal untuk kamu naik, sumbu lentera tersusun jadi jembatan untuk kamu lewati
kunci besar boleh kamu pegang, kunci kecil boleh kamu pakai
kertas emas, dupa, lilin undang kamu datang, kertas emas, dupa, lilin bawa kamu pulang

kok di artikan ke bahasa indonesia jadi aneh ya hahahaha....

Jika kamu berasal dari daerah belinyu dan sekitarnya (bangka belitung: red), maka kamu tidak akan heran lagi jika mendengar lagu/mantera ini di nyanyikan. Bahkan anak-anak kecil terkadang sangat iseng menyanyikan lagu seperti ini

Cu Si PAk Me mungkin artinya bibi babi mati atau bibi taek babi hahaha.

Ya... karena salah satu syarat ritual dalam permainan ini di haruskan di samping kandang babi pada malam hari. Biasanya babi-babi yang tertidur akan menjerit keras dan itu merupakan tanda-tanda si hantu yang di panggil akan datang.

Setelah si hantu datang maka keranjang yang di pegang akan bergoyang tidak tentu arah. Lalu si hantu pun akan di tanya jika dia perempuan maka keranjang akan mengangguk, dan apabila yang datang laki-laki maka keranjang akan sedikit memberontak tak tentu arah.

Peralatan pokok yang di gunakan dalam permainan ini adalah:

- Keranjang, Keranjang ini biasa di fungsikan untuk sarana rasukan si hantu. Mungkin di daerah lain menggunakan sarana boneka atau lainnya.
- Dupa
- Lilin
- Kertas emas
- kue-kue ringan
- sedikit daun bambu

Sebelum acara ini dimulai, biasanya dupa dan lilin akan di sejajarkan di sepanjang jalan yang di anggap akan di lewati si hantu. mungkin ini sebagai isyarat supaya si hantu gak nyasar. hehehe....

Disini kita akan menemukan perbedaan ritual jailangkung versi pulau bangka dengan jailangkung versi daerah lain.

Ritual pemanggil arwah cu si pak me ini hanya berlaku setengah bulan dalam 1 tahun. biasanya bertepatan pada bulan 8 dalam penanggalan imlek. Jadi ritual ini tidak bisa di lakukan setiap hari.

Sampai sekarang ritual ini masih sering di mainkan oleh masyarakat di pulau bangka belitung khususnya di daerah belinyu dan sekitarnya.

Sama seperti biasa ritual ini sering di gunakan oleh orang untuk mencari kode buntut atau apa saja.

Ritual cu si pak me sangat jarang terdengar memakan korban jiwa, mungkin saja belum pernah ada korban jiwa dalam ritual seperti ini. Biasanya yang paling parah adalah kaki bengkak gara-gara sepak keranjang cu si pak me sebelum si hantu mau pulang

Jika sudah seperti ini, mereka yang dapat sial akan mengobati penyakitnya pada dukun setempat yang mengerti masalah ilmu ghaib.

Tertarik untuk mencoba?

Hehehehe, sapa tau yang datang malah Hantu/Jin wanita yang cakep dan masih sendirian.

Sumber : EdyLaw di http://ff0rce.co.cc/articles.php?article_id=103

Selasa, 18 Januari 2011

Tradisi Sedekah Kampung di Bangka Barat

Sebagaimana halnya tradisi Nganggung dan Perang Ketupat yang sudah dikenal di Bangka Belitung, tradisi Sedekah Kampung adalah salah satu tradisi turun temurun lainnya yang bisa dijumpai di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sedekah Kampung merupakan tradisi masyarakat Bangka Belitung yang banyak dilakukan di Kabupaten Bangka Barat, khususnya di Kecamatan Kelapa dan Simpang Teritip, salah satunya di Desa Peradong.

Peradong merupakan desa yang sedikit terpencil, bagian dari Kecamatan Simpang Teritip dan tergolong daerah pedalaman yang telah melakukan ritual Sedekah Kampung selama puluhan tahun, yang diwariskan oleh nenek moyang. Akan tetapi selama itu pula tradisi tersebut belum dikenal masyarakat luas, khususnya di Kepulauan Bangka Belitung.

Sedekah Kampung seperti halnya tradisi-tradisi lainnya merupakan bagian dari rumpun Pesta Adat yang banyak dikenal dan dilakukan di wilayah pedesaan. Dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari unsur-unsur atau nilai keagamaan yang mendominasi dalam ritual pelaksanaan Sedekah Kampung.

A. Persiapan Sebelum Upacara

Perayaan Sedekah Kampung telah dilaksanakan secara turun temurun dan tidak diketahui asal usul serta awal mulai dilaksanakannya. Perayaan ini biasa dilaksanakan penduduk Desa Peradong setiap tahun bertepatan dengan bulan Maulud (Rabiul Awwal) dan acaranya berlangsung selama 2 hari yang biasanya pada hari Sabtu dan Minggu. Biasanya acara ini dilaksanakan antara tanggal 15 sampai 30 Rabiul Awwal. Sebelum pelaksanaan acara tersebut, jauh sebelumnya pada malam hari sang tetua adat (dukun) sekarang Kek Jemat mengadakan ceriak (beceriak/becerita–musyawarah) pemanggilan orang-orang kampung sebagai pemberitahuan akan dilaksankannya upacara adat dan menentukan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan upacara tersebut.

Pada tanggal yang telah ditetapkan tetua adat sebagai pawang desa dengan dibantu penduduk setempat memulai membuat batu persucian (taber) dengan menggunakan bahan-bahan tradisional serta dedaunan dan gaharu (dupa) dari kayu buluh (bambo). Menurut sang dukun dahulu kala penggunaan dupa ini adalah sebagai alat untuk menarik minat orang-orang cina yang berdiam didesa tersebut agar memeluk agama Islam.[1]

B. Jalannya Upacara

Setelah persiapan, seperti; batu persucian (taber) dan gaharu selesai, kemudian pada hari yang telah ditentukan tersebut, tetua adat dan masyarakat menyiapkan makanan dan minuman, serta buah-buahan, uang dan binatang peliharaan seperti; ayam dan bebek untuk diperbutkan setelah ritual upacara permohonan izin dilakukan. Semua peralatan telah dipersiapkan, kira-kira pukul 1 siang dimulai dari balai adat, tetua adat bersama penduduk arak-arakan menuju istana [2] dengan diiringi semarang (selawatan barzanji) guna untuk meminta izin dan memulai pelaksanaan sedekah kampung. Setelah sampai disana, sang dukun kemudian duduk diatas makam bersamaan dengan dihidangkan berbagai macam jenis makanan khas desa, uang serta hewan peliharaan seperti ayam dan bebek, kemudian mulai pembacaan do’a dan mantera. Setelah pembacaan do’a dan mantera selesai, penduduk naik keatas makam dan memperebutkan ayam, bebek dan buah-buahan serta uang yang ada diatas makam tersebut. Upacara kemudian dilanjutkan penampilan silat yang dilakukan oleh dua orang, kemudian sang dukun dan penduduk pembantunya melakukan pemberian tangkel (jimat) di empat penjuru dimulai dari istana tersebut menuju gerbang pintu masuk kedesa sampai akhir perbatasan desa tersebut. Pemberian jimat ini dimaksudkan untuk menangkal segala bentuk gangguan dari luar yang tidak menginginkan acara ini berlangsung.

Dalam pelaksanaa upacara ini, terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh semua orang yang mengikuti jalannya upacara ritual ini, yaitu duduk diatas pagar, meletakkan jemuran/pakaian berupa apapun diatas pagar dan bermain senter. Menurut penduduk apabila pantangan tersebut dilanggar, maka akan didatangi oleh makhluk-makhluk halus dan mengubahnya menjadi tepuler (kepala dengan wajah terbalik kebelakang). Untuk tetua adat selama acara berlangsung, tidak boleh makan dan minum.

C. Ritual Tradisi Sedekah Kampung Peradong :

1. Tamat Ngaji / Betamat Massal

Tamat ngaji (betamat/tamatan Qur’an) merupakan upacara yang dilakukan sebagai petanda bahwa seorang yang telah melaksanakan tamat ngaji dianggap telah pandai membaca al-Qur’an. Upacara ini dilakukan dalam rangka mensyukuri anak-anak khususnya dan remaja yang telah menamatkan bacaan al-Qur’an. Dalam tamat ngaji, peserta yang ikut dalam upacara tersebut membaca surat-surat pendek dari al-Qur’an secara bergantian. Biasanya pembacaan surat-urat pendek tersebut dimulai dari surat ad-Dhua sampai an-Naas. Anak-anak dan remaja yang tidak (belum) pernah menamatkan pembacaan al-Qur’an tentu tidak dapat ikut betamat. Namun bagi mereka yang telah menamatkan al-Qur’an boleh mengikuti untuk kedua kalinya. Bagi masyarakat Peradong, tamatnya anak-anak mereka membaca 30 juz al-Qur’an merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus. Ritual ini memiliki makna dan fungsi yang sangat penting dalam pendidikan keagamaan di masyarakat karena orang yang tidak mampu membaca al-Qur’an atau tidak fasih dalam membacanya akan menanggung malu dan mendapat gunjingan dari masyarakat.[3] Untuk upacara ini, tampuk kegiatan dipegang oleh pak Penghulu mulai acara berlangsung sampai selesai.

Jalannya upacara ini di mulai pukul 15.00 dengan mengadakan arak-arakan penjemputan peserta kerumah masing-masing. Arak-arakan masyarakat tersebut dimulai dari balai desa diiringi dengan selawatan barzanji menuju perbatasan kampung, kemudian setelah sebagian peserta bergabung dalam arak-arakan tersebut, rute kembali menuju ke perkampungan. Kalau dalam upacara Sayyang Pattudu di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, peserta tamat al-Qur’an duduk di atas kuda dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari.[4] Dalam upacara Sedekah Kampung, peserta (anak-anak dan remaja) tamat ngaji duduk di atas sepeda yang telah dihiasi dengan berbagai bentuk dan variasi yang didorong oleh orang tuanya dan orang dewasa lainnya dengan diikuti anak-anak dan remaja lainnya yang sebaya. Setelah semua peserta bergabung dalam arak-arakan tersebut, rute terus dilakukan menuju ke masjid. Sesampai di masjid, acara dimulai dengan sambutan dari penghulu, kepala desa dan guru ngaji, sebagaimana tersusun dalam susunan acara. Kemudian mulailah tamat ngaji dilakukan, diawali oleh guru ngaji memberikan aba-aba kepada peserta. Mulailah peserta membaca surat-surat pendek dalam al-Qur’an, yaitu dalam juz 30 diawali dari surat ad-Duha terus menerus secara bergantian hingga sampai pada surat an-Naas. Setelah selesai, dilanjutkan dengan pembcaan do’a khatam alQur’an yang biasanya dibacakan oleh penghulu. Akhirnya selesailah upacara tamat ngaji, peserta dan orang tuanya keluar dari masjid menuju ke rumah masing-masing. Bagi orang tua yang mampu, biasanya pada malam harinya atau ada juga sebagain yang langsung setelah tamat ngaji mengadakan selamatan di rumahnya. Bunga dijadikan sebagai simbol tamat ngaji yang dibawa olah keluarga peserta yang dihiasi dengan telor ayam yang digantungkan disetiap dahan.

2. Nganggung

Nganggung adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Karena tradisi nganggung merupakan identitas Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang, yang mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.[5]

Nganggung atau yang dikenal masyarakat Bangka dengan Sepintu Sedulang merupakan warisan nenek moyang yang mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan gotong-royong. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa kemasjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung. Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Nganggung adalah membawa makanan di dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan bersama setelah pelaksanaan ritual agama.[6]

Dalam acara ini, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium dan ada juga yang terbuat dari kuningan. Untuk yang terakhir ini sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang kuningan ini. Didalam dulang ini tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa. Kalau nganggung kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran. Dulang ini ditutup dengan tudung saji yang dibuat dari daun, sejenis pandan, dan di cat, tudung saji ini banyak terdapat dipasaran.Dulang ini dibawa ke masjid, atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati bersama. Hidangan ini dikeluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan disertai dengan rasa bangga.

Namun dalam perkembangannya sekarang kegiatan nganggung yang masih eksis dipertahankan pada saat memperingati hari besar agama Islam, dan menyambut tamu kehormatan.

3. Sunatan Adat

Sunat atau khitan secara harfiah berarti sama dengan sunnah dalam bahasa Arab.[7] Sunat merupakan upacara pemotongan ujung penis anak-laki dalam ukuran tertentu dalam ajaran Islam bagi anak yang akan memasuki akil baligh. Dalam tradisi Betawi, sunat diartikan sebagai proses atau etape pembeda. Bagi seorang anak laki-laki yang telah disunat berarti telah memasuki dunia akil baligh, maka dia dituntut atau seharusnya telah mampu membedakan antara yang hak dan yang bathil. Ia sudah selayaknya mampu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama dan adat kesopanan di masyarakat.[8] Dengan kata lain, seorang anak laki-laki yang telah disunat dianggap sudah menjadi manusia yang sempurna dalam arti untuk menjalankan kewajiban sebagaimana halnya manusia dewasa sebagai pengabdi. Pelaksanaan sunat adat yang dilakukan oleh mudim (tukang sunat kampung).

Pelaksanaan upacara sunat adat dimulai pukul 03.00 WIB peserta (anak-anak) yang akan disunat berendam didalam air (di aek kapong) kurang lebih selama 3 jam, kemudian kira-kira pukul 06.00-07.00 pelaksanaan sunatan yang dilakukan oleh mudim (tukang sunat kampung), orang Betawi menyebutnya dengan bengkong. Setelah selesai, peserta sunat diarak-arak keliling kampung dengan menggunakan kereta hiasan dengan berbagai macam variasi.[9] Sebagaimana dikutip dari Majalah Kompas tanggal 04 September 2001 tentang proses pelaksanaan sunatan massal di desa Kundi Kecamatan Simpang Teritip yang juga sama dengan proses pelaksanaan di desa Peradong:

Menjelang pelaksanaan khitanan adat, dini hari sekitar pukul 03.30, warga dibangunkan dengan pukulan kenong oleh Jenang dari Balai Pertemuan sederhana yang disebut warga Kundi sebagai balai desa. Pukulan kenong itu terdengar jauh juga, sehingga bisa memba-ngunkan orang yang tengah terlelap tidur. Meski demikian, kehidupan pasar malam di Kundi yang berlangsung sampai hampir tengah malam, agaknya banyak membuat warga Kundi kelelahan sehingga hanya sedikit yang bisa datang ke balai desa.

Di balai desa inilah empat anak yang akan dikhitan kemudian duduk bersama dua orang Jenang, dibacakan doa, sementara sejumlah warga lainnya, tua maupun muda, melakukan tarian Tabo dengan diiringi kenong dan tiga gendang. Beberapa seri tarian Tabo dimainkan, sampai kemudian para anak yang akan dikhitan dibawa berjalan beriringan menuju sungai yang lebih mirip kolam. Di tempat yang jauhnya sekitar satu kilometer dari Bal.

Pukulan kenong itu terdengar jauh juga, sehingga bisa membangunkan orang yang tengah terlelap tidur. Meski demikian, kehidupan pasar malam di Kundi yang berlangsung sampai hampir tengah malam, agaknya banyak membuat warga Kundi kelelahan sehingga hanya sedikit yang bisa datang ke balai desa.

Di desa inilah, keempat anak itu kemudian diminta berendam di sebuah kolam yang terlebih dulu didoa-doai oleh dua orang Jenang. Anak-anak itu ditemani para orang tua, sebagian warga, dengan iringan musik kenong dan gendang. Dari pukul 04.00 sampai 06.20 keempat anak itu berjongkok merendam setengah badan bagian bawahnya dalam air, membius kemaluan mereka agar tidak terasa sakit ketika dikhitan nanti.[10]

Setelah berendam di aek kapong selama kurang lebih 3 jam, kira-kira pukul 06.00-07.00 pelaksanaan sunatan dilakukan oleh mudim (tukang sunat kampung) secara bergantian kepada peserta. Alat-alat yang digunakan untuk memotong ujung penis laki-laki tersebut masih menggunakan alat tradisional, seperti; daun sirih yang digunakan untuk menghentikan pendarahan, gunting, kapas, bambu yang telah ditajamkan (dahulunya dipakai sebagai alat untuk memotong ujung penis, sekarang sudah menggunakan pisau) dan tali dari kain yang digunakan untuk mengikat sekaligus penahan bagi penis agar tidak bergerak.

Sunat Diarak Keliling Kampung

Setelah upacara sunat adat selesai, kemudian anak-anak tersebut diarak-arak keliling kampung didampingi teman-temannya yang sebaya. Arak-arak dilakukan dengan menggunakan tandu dan sepeda yang telah dihiasi dengan berbagai macam hiasan dan diiringi dengan selawatan barzanji, mulai dari ujung kampung (tempat sunat dilaksanakan, di dekat aek kapong) menuju lorong (gang) hingga kejalan umum, kemudian diselingi dengan penampilan pencak silat dan akhirnya kembali ketempat masing-masing.

Dalam adat Betawi, peserta (pengantin sunat) diarak duduk di atas kuda yang dirias dengan sedemikian rupa, anatar lain dengan bunga-bunga dan bermacam buah-buahan. Di dekat ekor kuda digantungkan seikat padi dan sebuah kelapa. Biasanya, si pengantin sunat akan didampingi teman-temannya mengiringinya dengan naik delman. Berjalan di barisan paling depan adalah grup ondel-ondel yang menari berkeliling kampung. Rebana ketimpring terus mengiringi sepanjang perjalanan.[11] Tidak demikian halnya di desa Peradong, peserta sunat diarak sebagaimana arak-arakan tamat ngaji, yaitu dengan duduk di atas sepeda yang telah dihiasi dengan berbagai bentuk dan variasi yang didorong oleh orang tuanya dan orang dewasa lainnya dengan diikuti anak-anak dan remaja lainnya yang sebaya. Rombongan depan adalah sebagai pembaca selawatan barzanji yang dikomandoi oleh tetua adat. Setelah selesai, bagi keluarga (orang tua anak) yang mampu, biasanya mengadakan hajatan (selamatan) di rumah masing-masing.

4. Selawatan Barzanji

Selawatan Barzanji merupakan bacaan shalawat yang diambil dari kitab al-Barzanji yang dibacakan ketika mengiringi setiap arak-arakan yang dilakukan, baik untuk arak-arakan tamat ngaji maupun untuk sunat adat. Pembacaan tersebut dilakukan oleh rombongan arak-arakan di baris depan, yang dikomandoi oleh tetua adat. Untuk irama pembacaan tersebut, hanya beberapa orang saja yang masih bisa untuk melafalkannya.

Selawat dilakukan tanpa ada paksaan, bagi remaja yang telah bisa membaca selawatan tersebut juga diperbolehkan untuk membaca selawat barzanji. Selain untuk mengiringi arak-arakan, juga untuk memeriahkan dan meramaikan sekaligus untuk menghibur peserta yang diarak. Khusus untuk arak-arakan tamat nagaji, bertujuan untuk memotivasi bagi anak-anak dan remaja lainnya agar menamatkan 30 juz al-Qur’an, sehingga bisa menjadi peserta tamat ngaji di tahun depan. Begitu juga dengan arak-arakn sunat adat, juga untuk memberikan semangat dan keberanian kepada mereka yang belum disunat.

5. Penampilan Pencak Silat

Upacara ini dilakukan untuk menghibur para penonton yang menyaksikan jalannya kegiatan upacara sedekah kampung dan juga untuk menghibur anak yang baru saja disunat. Karena selain masyarakat Peradong, banyak para pengunjung yang datang untuk menyaksikan jalannya acara tersebut. Pencak silat tersebut diperankan oleh masyarakat dengan pakaian bebas, bahkan hansip – pun boleh memperagakannya sebagai aktor.

Pencak silat ini tidak seperti halnya silat pada umumnya, karena dalam pencak silat ini hanya menirukan sebagian gerakan-gerakan saja. Dalam penampilannya, terlihat sedikit lucu karena gerakan-gerakannya bukan gerakan-gerakan dalam jurus silat. Gerakan tersebut dilakukan sesuai dengan gaya masing-masing pemeran dengan sedikit meniru gerakan dalam jurus silat kampung. Yang menarik perhatian dari penampilan pencak silat tersebut, adalah ketika pemeran (sebagai aktor) berupaya memperebutkan uang yang diletakkan masyarakat dan pengunjung yang dikeluarkan dengan suka rela.

Dengan gayanya yang sedikit konyol, mereka–pemeran berupaya mempertahankan uang yang telah mereka dapatkan agar tidak diambil oleh pemeran lainnya. Penampilan ini biasanya dilakukan oleh dua orang.

Literatur :
[1]Dinas Perhubungan , Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bangka Barat, Booklet Pariwisata Negeri Sejiran Setason, hal. 6.
[2]Istana adalah sebutan masyarakat terhadap makam keturunan tetua adat yang dijadikan sebagai tempat ritual upacara permohonan izin untuk melaksanakan Sedekah Kampung (makam leluhur yang merupakan kakek buyut tetua adat dan sekarang sudah keturunan kelima).
[3]Zulkifli, Ibid., hal. 54.
[4]Mancung64’s Weblog, Theme: Andreas04 oleh Andreas Viklund. Blog pada WordPress.com. Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada.
[5]Mancung64’s Weblog, Theme: Andreas04 oleh Andreas Viklund. Blog pada WordPress.com. Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada.
[6]Zulkifli, Ibid., hal. 53.
[7]Yahya Andi Saputra, Upacara Daur Hidup Adat Betawi, (Jakarta Selatan: Wedatama Widiya Sastra, 2008), cet. Pertama, hal. 17.
[8]Ibid.
[9]Runi Pardi (Kepala Desa), Wawancara, di desa Peradong.
[10]http://www.kompas.com/kompas-cetak/0109/04/daerah/sema20.htm, Semangat Kundi Mempertahankan Adat, Kompas/rakaryan sukarjaputra, From: apakabar@saltmine.radix.net, Date: Tue Sep 04 2001 - 10:54:29 EDT, Selasa, 4 September 2001, di akses tanggal 07 November 2008.
[11]Yahya Andi Saputra, ibid,. Hal. 21.

Artikel ini di tulis oleh :
Suryan Masrin (Sekretaris Karang Taruna Peradong 2007-2012 dan Anggota HMI Babel)
Alamat: Riding Panjang Merawang Bangka
Email : mia_aza@yahoo.com

Source url :
TRADISI ADAT dan BUDAYA SEDEKAH KAMPUNG di PERADONG BANGKA BARAT - INDONESIA

Musik Dambus Etnik Melayu

Musik etnik daerah sudah sepantasnya diangkat ke permukaan, mengingat selama ini potensi besar yang dimiliki daerah bidang seni dan kebudayaan belum optimal dikembangkan.

Menguatnya perkembangan industri pariwisata membutuhkan unsur-unsur penunjang yang cukup. Pariwisata bukan hanya pantai, hotel, candi, dan lain-lainnya tanpa di sertai keberadaan seni dan budaya yang menarik. Seperti Bali yang sangat populer di seluruh mata wisatawan mancanegara karena kaya akan tempat wisata, seni dan kebudayaan yang unik dan khas.

Demikian pula dengan musik etnik melayu, khususnya dambus. Di Bangka Belitung dalam beberapa tahun terakhir gencar dikembangkan berbagai kegiatan kesenian musik dambus dalam berbagai event. Bahkan sekarang ini sudah banyak terbentuk sanggar seni dambus di berbagai daerah di Bangka.

Keberadaan musik dambus yang dulunya hanya terpelihara oleh masyarakat yang sudah berumur (tua) kini mulai mendapat tempat. Dengan adanya keberadaan sanggar musik membuat seni dambus mampu menarik minat kaum muda untuk mempelajarinya.

Bahkan dalam waktu dekat, salah satu sanggar di Bangka Belitung akan turut berperan serta dalam Festival Lomba Zapin Melayu yang akan diselenggarakan di Negara Malaysia. Acara ini diikuti oleh banyak daerah melayu dan negara seperti Aceh, Kep. Riau, Bangka Belitung, Malaysia, Brunai, Serawak dan lain sebagainya. Berbagai kesenian melayu akan dihadirkan dalam acara tersebut termasuk tarian dincak dambus. (Harian Bangka Pos, 26 Juni 2008)

Musik dambus dengan irama denting dawainya yang khas menyimpan sejuta ‘rasa’ yang lain dibandingkan musik lain. Musik dambus dimainkan dengan diiringi lagu dan tarian khas melayu yang di Bangka Belitung disebut dengan nama “DINCAK”. Dahulu pada perkembangannya, musik dambus selalu menjadi andalan dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti perayaan pesta perkawinan, pesta adat, dan berbagai kegiatan lainnya.

Buat anda yang penasaran dan berminat mendengarkan beberapa lagu etnik melayu dengan alat musik tradisional dambus Bangka, silahkan download disini :

Semoga khasanah budaya etnik daerah yang satu ini dapat senantiasa berkembang dengan baik . Karena dapat menjadi salah satu sektor penting guna menunjang Pemerintahan Daerah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang giat mengusung program pariwisata “VISIT BABEL ARCHY 2010”.


By. Didi
(Data lagu didapat dari Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kab. Bangka Tengah, yang merupakan hasil rekaman dari salah satu grup musik dambus asal Tanah Merah, Pangkalan Baru Kab.Bangka Tengah, Bangka Belitung)

Ritual Adat Nujuh Jerami di Bangka Belitung


Dari berbagai adat istiadat, tradisi, ritual budaya dan kebiasaan lama masyarakat Bangka Belitung, Tradisi Nuju Jerami termasuk salah satu yang tidak populer lagi saat ini. Padahal tradisi budaya seperti ini  mengandung nilai luhur dan budaya yang patut dijaga. 

Seperti meredupnya berbagai budaya dan tradisi lama oleh budaya modern, Tradisi Nuju Jerami sudah jarang sekali dapat kita jumpai di Bangka Belitung. Kalaupun ada itu hanyalah terdapat pada beberapa wilayah saja.
Tradisi Nuju Jerami merupakan salah satu bentuk rangkaian pesta adat yang bertepatan dengan panen padi. Budaya ini sebagai ungkapan wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan sang pencipta alam semesta atas berlimpahnya panen padi yang didapat saat itu dan dimasa yang akan datang. 

Kultur masyarakat Bangka Belitung yang dahulu juga bertanam padi, membuat tradisi ini berkembang pada masa-masa itu. Namun seiring perubahan zaman, pola pencaharian dan kebiasaan yang terinduksi budaya modern membuat kebiasaan bertanam padi pun ditinggalkan banyak masyarakat Bangka Belitung. 

Saat ini Dusun Air Abik di Desa Gunung Muda, Belinyu merupakan satu-satunya tempat yang masih melakukan ritual adat Nuju Jerami di Bangka Belitung. Budaya itu tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Sebagian besar masyarakatnya pun tetap melanjutkan kebiasaan menanam padi untuk kebutuhan sehari-harinya.

Prosesi Adat Nuju Jerami Di Dusun Air Abik

Esensi utama ritual adat ini adalah menumbuk padi sebanyak tujuh kali, sehingga oleh masyarakat Bangka Belitung disebut dengan Nuju (Tujuh) dan Jerami sebagai sebutan untuk padi yang ditumbuk didalam lesung (tempat menumbuk padi yang terbuat dari kayu).

Peralatan yang disiapkan antara lain dua buah kotak yang berisi alu dan lesung, padi dan dibungkus kain berwarna kuning keemasan. Kemudian peralatan itu diarak sepanjang jalan dusun menuju tempat ritual.

Pada tempat yang telah ditetapkan, Ritual Nuju Jerami dimulai dengan mengeluarkan alu dan lesung dari dalam kotak lalu tetua adat membacakan mantra dan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Padi yang telah di taruh didalam lesung kemudian ditumbuk dengan menggunakan dua buah alu secara bergantian sebanyak tujuh kali. 

Tumbukan pertama mengandung arti sebagai ucapan salam kepada segentar bumi (bumi sebagai lahan ladang) agar penguasa bumi jangan sampai marah kepada manusia.

Tumbukan kedua mengandung arti sebagai ucapan salam kepada segentar alam agar penguasa alam tidak menganggu acara ritual adat nuju jerami.

Lalu pada tumbukan ketiga dan seterusnya, warga Air Abik yang masih menganut kepercayaan atiesme itu bermaksud mengucapkan salam kepada segentar angin, embun dan mengungkapkan rasa terima kasih karena mereka telah membawa pulang hasil berladang.

Pada setiap tumbukan, suasana khidmat terasa dengan dipimpin langsung oleh tetua adat.

Ritual Nuju Jerami diakhiri dengan membagikan beras yang sudah ditumbuk kepada tujuh orang dengan tujuan agar warga mendapat berkah di tahun-tahun mendatang akan hasil padi mereka. 

Yang menarik, suasana kekeluargaan dan silaturahmi begitu tampak karena seluruh masyarakat sekitar turut serta menyemarakkan acara ini. Mereka melepaskan seluruh pekerjaan lainnya dan berbaur bersama. Setelah itu suasana Dusun tampak seperti Lebaran, bertamu dan bersilaturrahmi pun dilakukan. Selain itu hampir setiap rumah menyediakan berbagai makanan dan jamuan untuk tamu yang berkunjung.

Tradisi Adat Nuju Jerami saat ini telah masuk sebagai salah satu agenda wisata budaya Bangka Belitung. Seperti budaya Bangka Belitung lainnya (Acara Adat Perang Ketupat di Tempilang, kawin massal, buang jong, dll) Ritual Nuju Jerami saat ini berkembang menjadi salah satu komoditas pariwisata Bangka Belitung.
Mudah-mudahan potensi budaya seperti ini dapat dilestarikan hingga ke masa-masa yang akan datang, sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bangka Belitung. 

I hope so, Welcome To Bangka Belitung …. :)

Sumber literatur :
- http://kadangtani.blogspot.com/2009/04/ritual-nuju-jerami.html

sosial budaya bangka belitung

Penduduk Pulau Bangka dan Pulau Belitung yang semula dihuni orang-orang suku laut, dalam perjalanan sejarah yang panjang membentuk proses kulturisasi dan akulturasi. Orang-orang laut itu sendiri berasal dari berbagai pulau. Orang laut dari Belitung berlayar dan menghuni pantai-pantai di Malaka. Sementara mereka yang sudah berasimilasi menyebar ke seluruh Tanah Semenanjung dan pulau-pulau di Riau. Kemudian kembali dan menempati lagi Pulau Bangka dan Belitung. Sedangkan mereka yang tinggal di Riau Kepulauan berlayar ke Bangka. Datang juga kelompok-kelompok Orang Laut dari Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Pada gelombang berikutnya, ketika mulai dikenal adanya Suku Bugis, mereka datang dan menetap di Bangka, Belitung dan Riau. Lalu datang pula orang dari Johor, Siantan yang Melayu, campuran Melayu-Cina, dan juga asli Cina, berbaur dalam proses akulturasi dan kulturisasi. Kemudian datang pula orang-orang Minangkabau, Jawa, Banjar, Kepulauan Bawean, Aceh dan beberapa suku lain yang sudah lebih dulu melebur. Lalu jadilah suatu generasi baru: Orang Melayu Bangka Belitung.
Bahasa yang paling dominan digunakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah Bahasa Melayu yang juga disebut sebagai bahasa daerah, namun seiring dengan keanekaragaman suku bangsa, bahasa lain yang digunakan antara lain bahasa Mandarin dan bahasa Jawa.
Penduduk Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi kerukunan beragama. Ditinjau dari agama yang dianut terlihat bahwa penduduk provinsi ini memeluk agama Islam dengan presentase sebesar 86.91 persen, untuk penduduk yang menganut agama Budha sebesar 7.83 persen, agama Kristen Protestan sebesar 2.70 persen, agama Katholik sebesar 2.45 persen dan lainnya atau 0.11 menganut agama Hindu. Tempat peribadatan agama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ada sebanyak 718 mesjid, 438 mushola, 102 langgar, 87 gereja protestan, 30 gereja katholik, 48 vihara dan 11 centiya.

Sabtu, 15 Januari 2011

Tempat Wisata Sejarh di Bangka Belitung

Pulau Bangka menyimpan banyak berbagai potensi wisata. Selain keunggulan wisata pantainya, Pulau Bangka juga menyimpan potensi wisata Sejarah. Berikut ini adalah rangkuman yang berhasil Didi rangkum dari berbagai penelusuran lokasi wisata sejarah di Bangka. Insya Allah akan di update lagi guna melengkapinya. 

Lokasi 1 : Pangkalpinang

1. Museum Timah.

Museum Timah Indonesia terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani no. 17. Sebelum menjadi museum rumah ini merupakan rumah tempat tinggal karyawan perusahaan BTW ( Banka Tin Winning). Museum ini menjadi tempat perundingan pemimpin-pemimpin Republik dengan Belanda dan UNCI sebelum perundingan Roem-Royen. Sekarang rumah ini menjadi Museum Timah Indonesia Indonesia (2 Agustus 1997) dan disini akan diketahui bagaimana perkembangan sejarah pertimahan di Indonesia.

2. Rumah Residen.

Sebagi kota bersejarah, Kota Pangkalpinang memilki banyak warisan sejarah yang dapat mengungkapkan kembali kejayaan bangsa di masa lampau serta mencermati jejak-jejak derap langkap pembangunan daerah. Wisatawan dapat berkunjung ke Rumah Residen, bangunan ini terletak di jalan Merdeka nomor 1. Sebelum menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang, rumah ini adalah rumah Residen Belanda. Pada tahun 1913 Belanda memindahkan pusat Karesidenan dari Mentok ke Pangkalpinang sekaligus memisahkan antara administrasi pertambangan BTW (Banka Tin Winning) dengan administrasi negeri (Bestuur), dengan Residen pertama A.J.N Engelenberg.

Rumah ini sangat bersejarah karena merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan di Kota Pangkalpinang. Di depannya terdapat alun-alun atau lebih dikenal dengan Lapangan Merdeka sebagai tempat bertemunya para pemimpin dengan masyarakat. Di halaman rumah tersebut juga terdapat dua buah meriam kuno berangka tahun 1840 dan 1857.

3. Pemakaman Belanda (Kerkrof).

Kompleks Pemakaman Balanda (kerkrof), terletak dijalan Sekolah Kelurahan Melintang Kecamatan Rangkui. Di sini terdapat sekitar 90 makam Belanda, yang tertua berasal dari tahun 1902 dan termuda sekitar tahun 1950-an. Pada kompleks pemakaman umum orang Belanda, salah satu makam tertua adalah makam Nyonya Irene Mathilde Ehrencron yang wafat pada tanggal 10 Maret 1928. Di sini juga terdapat makam tentara Belanda korban Perang Dunia Kedua. Kerkrof adalah salah satu bukti bahwa Pangkalpinang memiliki nilai strategis bagi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu.

4. Perigi Pekasem.

Sumur atau perigi Pekasem terletak di Kelurahan Tuatunu Indah Kecamatan Gerunggang. Perigi atau sumur ini dijadikan tempat untuk membuang mayat orang-orang yang terbunuh TKR (Tentara Keamanan Rakyat), karena dianggap musuh atau sebagai mata-mata Belanda atau sekutunya. Tuatunu sendiri pada waktu itu merupakan kampung yang dijadikan salah satu markas TKR yang terletak di Hutan Titi Rengas, Kampung Cekong Abang, Air Duren dan Hutan Arang, Air Kelapa Tujuh, terletak di antara bukit bulur air dan Air Kelapa Tujuh Tuatunu. TKR sendiri dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Maklumat tanggal 5 Oktober 1945 dikarenakan situasi Nagara Kesatuan Republik Indonesia yang baru terbentuk dalam keadaan genting dan berbahaya karena kedatangan tentara Belanda (NICA) karena ingin kembali berkuasa di Indonesia.

5.Tugu Pergerakan Kemerdekaan.

Tugu Peregerakan Kemerdekaan, terletak di jalan Merdeka di lokasi Tamansari. Tugu ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Bangka dalam mempertahankan serta merebut kemerdekaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Diresmikan oleh Bung Hatta pada tahun 1949. Bentuk tugu dengan arsitek menarik dan unik terdiri atas lingga di atas punden berundak-undak dan yoninya berada di ats lingga dengan bentuk yang simetris dengan simbol tertentu mencerminkan perjuangan yang dilakukan oleh berbagai suku dan lapisan masyarakat Indonesia. Pada tugu prasasti tertulis "Surat kuasa kembalinya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserahterimakan oleh Ir. Soekarno kepad Sri Sultan Homengkubuwono IX, Media Juni 1949".


Lokasi 2 : Kabupaten Bangka

1. Kampung Gedong.

Perkampungan/pemukiman masyarakat asli Cina dapat kita temui didaerah Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, kurang lebih 54 km dari Kota Sungailiat. Selain itu terdapat pula di Kampung Gedong, Desa lumut, Kecamatan Riau Silip, kurang lebih 51 km dari Kota Sungailiat atau kurang lebih 14 km dari Kota Belinyu. Kehidupan mereka rata-rata berdagang dan pembuat makanan khas Bangka seperti kerupuk, kemplang, getas dan lain-lain.

2. Makam Depati Bahrin.

Makam ini berada di desa Kimak, Kecamatan Merawang. Lokasi ini dapat ditempuh dengan jarak sekitar 30 km dari Kota Sungailiat. Depati Bahrin adalah salah seorang pahlawan Bangka yang menentang penjajah Belanda. Kuburan dibawah pohon durian yang sangat besar ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Upacara Adat Mandi Belimau.

3. Phak Khak Liang.

Tempat ini berada di Desa Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Sekitar 2 km dari Kota Belinyu atau 53 km dari Kota Sungailiat. Pha Kak Liang adalah sebuah kawasan wisata bergaya China, yang dibangun didaerah bekas tambang timah, luasnya mencapai 2 ha. Wisatawan yang datang kesini seolah berada didaratan Hongkong atau Taiwan. Daya Tarik lain bagi wisatawan disini yang tak kalah menariknya adalah penunjung dapat menyaksikan ikan air tawar yang besar-besar bermunculan dari permukaan air apabila wisatawan memberikan makanan ikan yang telah disediakan oleh penjaga setempat. Menurut cerita, ikan tersebut tidak boleh dipancing atau dimakan.

4. Situs Kota Kapur.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dulu mengirimkan utusannya untuk memberantas para perampok dan pemberontak. Situs ini terletak didesa Kota Kapur Kecamatan Mendo Barat, tempat ditemukannya Prasasti (batu bertulis) yang disebut Lingga dan batu Yoni.

Lokasi 3 : Kabupaten Bangka Selatan

1. Benteng Penutuk.

Benteng Penutuk ini terletak di Desa Penutuk Kecamatan Lepar Pongok Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 2 km dari Desa Penutuk dan untuk mencapai lokasi benteng ini dapat ditempuh selama 25 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua

2. Benteng Toboali.

Benteng ini terletak di Kelurahan Tanjung Ketapang Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, lokasi benteng ini dapat ditempuh sekitar 10 menit perjalanan dari pusat Kota Toboali dengan menggunakan kendaran roda dua dan empat

3. Klenteng Dewi Sin Mu Tahun 1800.

Kelenteng ini terletak si Kelurahan Tanjung Ketapang Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, lokasi Kelenteng ini dapat ditempuh sekitar 10 menit perjalanan dari pusat Kota Toboali dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.

4. Mercusuar Lampu Besar.

Mercusuar ini terletak di Desa Batu Betumpang Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan, lokasi mercusuar ini dapat ditempuh selama 1,5 jam perjalanan dari Kota Toboali dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.Mercusuar ini sudah berumur lebih dari satu abad dan merupakan bangunan peninggalan Belanda, sampai saat ini mercusuar ini masih berfungsi sebagai navigasi perahu-perahu nelayan sekitar.

5. Mercusuar Pulau Dapur.

Mercusuar ini terletak di Pulau Dapur Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, lokasi mercusuar ini dapat ditempuh selama 45 menit perjalanan laut dari Kota Toboali dengan menggunakan speed boat. Mercusuar ini sudah berumur lebih dari satu abad dan merupakan bangunan peninggalan Belanda, sampai saat ini mercusuar ini masih berfungsi sebagai navigasi perahu-perahu nelayan.

6. Peninggalan Sejarah Pergam.

Benda-benda sejarah ini terdapat di Desa Pergam Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan, lokasi Desa Pergam dapat dicapai dalam 30 menit perjalanan dari Kota Toboali. Sampai saat ini benda-benda tersebut masih tersimpan disalah satu rumah penduduk Desa Pergam yang merupakan juru rawat benda-benda tersebut.

7. Rambut Batin Tikal.

Batin Tikal adalah seorang pejuang pada masa penjajahan Belanda, dia dikenal karena kesaktiannya, walaupun Batin Tikal sudah tiada tetapi rambutnya masih tersimpan hingga sekarang dan diwariskan secara turun temurun kepada keturunannya. Sampai saat ini rambut tersebut tidak akan tertembus oleh peluru, akan tetapi untuk mendapatkan rambut tersebut tidaklah mudah hanya yang berjodoh yang bisa memilikinya.

8. Makam Kreo Panting.

Makam ini terletak di Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 6 km dari Kecamatan Payung dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Kreo Panting merupakan seorang pejuang pada masa penjajahan Belanda, ia berasal dari Pulau Jawa karena dikejar oleh Belanda ia melarikan diri kepulau Bangka dan sampai ke Desa Payung. Karena tidak mau tunduk kepada Belanda akhirnya ia di pasung dan di penggal, kepalanya di bawa ke Palembang dan tubuhnya di makamkan di Payung.

9. Makam Syech Said Jamalludin Al Afany.

Makam ini terletak di Desa Bahar sekitar 1 km dari Kota Toboali, menurut cerita makam ini adalah makam seorang panglima pada masa penjajahan Belanda, ia juga salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Bangka. Makam ini dapat ditempuh selama 30 menit perjalanan dari Kota Toboali, sekarang makam ini dikenal dengan sebutan Keramat Toboali.

10. Makam Karang Panjang.

Makam ini terletak di Desa Bangka Kota Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 141 km dari Kota Toboali dan lokasinya dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Menurut cerita makam ini merupakan makam seorang pejuang pada masa penjajahan Jepang, konon menurut penduduk setempat jika bulan purnama tiba ukuran makam ini akan ikut membesar/memanjang dan ketika bulan purnama hilang ukurannya akan kembali seperti semula.

11.Wisma Samudra.

Wisma Samudra yang terletak di Toboali ini merupakan bangunan bersejarah. Bangunan ini merupakan tempat penguasa pada zaman kolonial Belanda.

Lokasi 4 : Kabupaten Bangka Tengah

1. Mercusuar Pulau Pelepas

Mercusuar ini di buat oleh kolonial Belanda tahun 1893 yang disebut Mercusuar H.M. Koningin Wilhelmina atau H.M. Koningin Emma. Mercusuar ini terletak di pulau Pelepas, sekitar 2,5 jam dari desa Sungai Selan. Sampai sekarang masih di fungsikan, dengan lingkungan pulau yang masih alami, pegunjung dapat menikmati pemandangan di sekitarnya.

2. Makam Belanda (D.W.Becking)

Merupakan salah satu makam kolonial Belanda yang pernah menduduki kepulauan Bangka. Dimakamkan pada tahun 1851 di desa Sungaiselan tepatnya di belakang asrama Polsek Sungaiselan Kecamatan Sungaiselan 65 km dari koba.


3. Tugu Pahlawan 

Tugu Pahlawan ini terletak di desa Tanjung Berikat Kecamatan Lubuk Besar sekitar setengah jam dari desa Lubuk Besar atau sekitar 1 jam dari kota koba. Tugu ini melambangkan perlawanan para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dengan para penjajah waktu itu yang ingin memasuki pulau Bangka melalui Tanjung Berikat.

4. Sumur Tujuh

Merupakan sumur peninggalan masa belanda. Sumur yang terletak di dekat kota Koba, ibukota kabupaten bangka tengah itu (1,5 km) berjumlah 7 buah dengan jarak sekitar 2 meter antar sumur. Sumur itu dulu kala digunakan untuk pengolahan garam, sayang bangunan lain disekitar sumur itu sudah hancur dan sekarang tak berbekas lagi. Letak sumur yang berada di pinggir pantai membuat pantai itu dikenal dengan Pantai Sumur Tujuh.

Lokasi 5 : Kabupaten Bangka Barat

1. Masjid JAMI Muntok

Bangunan Masjid Jami Muntok yang berlokasi di kelurahan Tanjung, kecamatan Muntok, kabupaten Bangka Barat ini berdiri sejak tahun 1881 M, atas inisiatif Tumenggung Kartanegara II sebagai wakil Kesultanan Palembang. Lahan yang digunakan merupakan tanah wakaf dari Tumenggung Arifin dan H. Muhammad Nur seluas 7.500 M2. Lokasi masjid ini ialah disebelah klenteng Kuang Fuk Miay d dekat terminal Lama Muntok. Bangunan masjid ini bertiang utama sebanyak 6 buah di bagian depan dan 4 dibagian dalam. Jumlah pintu msuk masjid berjumlah 5 buah dengan ukuran 76 x 220 cm dan terbuat dari kayu bulin, Jendela sebanyak 17 Buah berukuran 120 x 220 cm. (direktori Masjid bersejarah Departemen Agama RI – 2008)

2. Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam.

Ada dua gedung tua yang pernah dijadikan sebagai tempat pengasingan, gedung tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam. Bung Karno bersama Bung Hatta dan sejumlah pemimpin Republik Indonesia lainnya pernah menempati dua bangunan bersejarah itu saat dibuang Belanda pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati Pesanggrahan Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit Menumbing.

Di perbukitan Giri Sasana Menumbing dengan ketinggian sekitar 800 meter dpl kita bisa melihat langsung kamar tempat Bung Karno dan Bung Hatta serta salah satu mobil yang mereka pakai saat diasingkan Belanda pada zaman Kemerdekaan. Kini tempat pembuangan Bung Karno dan Bung Hatta itu sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi hotel dengan nama Jati Menumbing. Selain di Giri Sasana Menumbing ada satu tempat lagi yang menjadi tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta oleh Belanda adalah Wisma Ranggam. Gedung itu kini sudah mengalami renovasi karena kondisinya sempat sangat memprihatinkan.

3. Makam H. Hatama Rasyid (Jebus)

Makam ini adalah makam penyebar Agama Islam yang di keramatkan. Makam ini terletak di Desa Bakit Kecamatan Jebus berjarak 4D.35 Km dari pusat kota. Makam ini setiap tahunnya banyak dikunjungi oleh peziarah dari Kabupaten Bangka Barat maupun dari Kabupaten-Kabupaten dan bahkan banyak juga peziarah-peziarah dari luar pulau Bangka datang ketempat ini untuk berziarah. Ditempat ini mereka yang datang berdoa untuk meminta agar murah rezeki, jodoh dan kesehatan kepada Allah. Dengan kondisi jalan yang mulus, tempat ini dapat ditempuh dengan menggunakan mobil selama kurang lebih 2 jam dari kota Muntok.

4. Monumen Proklamator Kota Muntok

Monumen Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta adalah sebuah monumen yang baru dibangun dikota Muntok dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI Mega Wati Soekarno Putri pada 2 Juli 2000. Monumen dengan tinggi sekitar tujuh meter berbentuk batu lonjong dengan seekor burung Garuda berkalungkan perisai Lima Sila yang mengepakkan sayapnya seakan-akan hendak terbang ini dibuat dari batu granit. Di pelataran depan, patung Bung Karno dan Bung Hatta berdiri gagah sedang menunjuk ke arah laut Selat Bangka.

Monumen ini berada persimpangan jalan antara lapangan bola dan kantor Pos dan berada dekat pusat kota Monumen ini semakin memperkaya keberadaan Kota Muntok sebagai pusat perjuangan yang bersejarah dan berbudaya. Monumen Proklamator Bung Karno Dan Bung Hatta sarat dengan makna dan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Monumen ini melengkapi nilai bersejarah monumen lainnya seperti Pesanggrahan Bung Karno (Wisma Ranggam) Vila di Bukit Menumbing.

5. Rumah Mayor di Muntok

Peninggalan bangunan lama yang dibangun pada masa penjajahan belanda, hingga kini bangunan itu masih ada. Namun minimnya informasi atas keberadaan bangunan ini membuatnya kurang begitu dikenal bahkan oleh masyarakat bangka sendiri. Foto bangunan ini dapat anda lihat di sini.

6. Makam pangeran Pakoeningprang

Pangeran Hario Pakoeningprang adalah salah satu pahlawan dari Yogyakarta yang diasingkan oleh Belanda di Kota Muntok pada tanggal 8 Februari 1897. Pengasingan Pangeran Hario Pakoeningprang berawal dari diutusnya beliau untuk meredam perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintahan Belanda. Tetapi Setibanya di Aceh Pangeran Hario malah berbalik melawan Belanda. Setelah tertangkap Beliau lalu diasingkan di Bangka (Muntok) pada tanggal 8 Februari 1897 hingga Wafat pada tanggal 18 Agustus 1897. Pangeran Hario Pakoeningprang adalah Cucu dari Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II.

Selintas Bagian sejarah Tiong Hoa di Bangka Belitung

Dari berbagai macam etnis masyarakat di Bangka Belitung. Salah satu etnis yang banyak terdapat di Babel adalah etnis Tionghoa. Karena itu sedikit banyak telah terjadi pembauran antara bahasa Bangka dengan bahasa Tionghoa, yang dalam bahasa Bangka disebut dengan orang China orang Cen atau orang Cin.

Menurut catatan Belanda, perpindahan orang China ini berlangsung sejak awal abad ke-18 atau sekitar tahun 1710 Masehi. Komunitas Tionghoa terbesar di Babel berasal dari suku Ke Jia (sering disebut orang Khe) dari propinsi Guang Dong, Tiongkok. Mereka berangkat dari kampung-kampung di distrik tertentu seperti, Sin Neng, San Wui, Hoi P’eng, dll.

Menariknya, perpindahan mereka dari Tionghoa ke Bangka, melakukan migrasi sistem bedol desa. Sebagian besar berasal dari satu kampung halaman. Tak ubahnya para urban di Jakarta , saat mereka pulang kampung ke Tiongkok sendirian, pulang ke Bangka mereka mengajak kawan dan sanak saudaranya ikut serta. Dan itu berlangsung terus hingga abad ke-20.

Arus pertama migrasi bedol desa tersebut, tidak disertai kaum wanita, sehingga terjadilah perkawinan campuran antara buruh migran dengan wanita setempat (melayu) ataupun perempuan Jawa dan Bali.

Apa tujuan orang China ke Bangka ?

Bagian terbesar dari migran tersebut adalah untuk tambang timah. Seiring perjalanan waktu, di Pulau Bangka yang berada di bawah Kesultanan Palembang ditemukan timah, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman adalah orang Tionghoa suku Kejia yang memang terkenal memiliki keahlian di bidang pertambangan.

Sultan Palembang meniru pengalaman Sultan Perak dan Sultan Johor yang mempekerjakan pekerja tambang Tionghoa untuk mengolah cadangan timah. Salah satu perintis yang diberi kepercayaan adalah Lim Tau Kian, seorang Tionghoa Muslim asal Guang Zhou (Canton), seorang sahabat Sultan Johor.

Lim Tau Kian yang memiliki nama Melayu Ce Wan Abdulhayat bermukim di Kota Mentok. Dia memiliki anak cucu yang memakai gelar dari Kesultanan Johor, yakni Abang untuk lelaki dan Yang untuk perempuan (Sumber: Bangka Tin and Mentok Pepper karya Mary F Somers Heidhues).

Buyung Benjamin seorang sesepuh Tionghoa Bangka, menceritakan bahwa warga Tionghoa sudah ada di pulau Bangka sebelum kedatangan Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho dalam dialek Fujian-Red) tahun 1405 Masehi. “Saya sendiri sudah keturunan ke sepuluh di Pulau Bangka. Hingga kini kami masih mendengar cerita tentang keahlian leluhur kami dalam menambang timah,” kata Buyung.

Menurut Buyung, masyarakat Tionghoa-lah yang memperkenalkan teknik bertambang yang hingga kini masih dikenal. Kosa kata “Ciam” (Jian dalam Mandarin-Red) atau pengebor, “Sakan” alias pengayak pasir timah, hingga “Kolong” yakni lubang tambang besar dari Dialek Ke Jia adalah sebagian kecil dari bukti peninggalan tradisi Tionghoa yang masih bertahan hingga kini.

Sebelum Belanda bercokol di Bangka-Belitung, kongsi-kongsi China terlebih dulu mengupayakan penambangan timah dengan izin dari Sultan Palembang. Seizin penguasa Kesultanan Palembang dan Kerajaan-kerajaan Melayu seperti Lingga dan Johor yang silih berganti menanamkan pengaruh di Bangka-Belitung, masyarakat Tionghoa pun membangun permukiman di sana. Permukiman mula-mula berada di sekitar Panji dekat Teluk Klabat.

Selanjutnya, seiring penemuan tambang baru, permukiman berkembang di Toboali, Koba, Sungai Liat, Jebus, Merawang, Baturusa, dan Koba di selatan Pulau Bangka terciptalah pola permukiman yang unik, masyarakat Bangka-Melayu tinggal di dekat sungai karena mereka berkebun. Sedangkan perkampungan Tionghoa selalu berada di sekitar lubang tambang timah sesuai jalur timah (tin trap) di sepanjang Pulau Bangka dan Belitung. Pola permukiman tersebut tetap bertahan hingga hari ini atau lebih dari tiga abad!

“Perkampungan Tionghoa selalu berada di sekitar jebakan timah atau bekas tambang. Sedangkan perkampungan Melayu di sekitar sungai tempat mereka berkebun dan mencari nafkah dari berladang,” kata Buyung Benjamin.

Sedangkan salah satu Ketua Badan Warisan Bangka (Bangka Heritage Society) Hongky Lay Listiyadhi menjelaskan, Para petinggi Tionghoa yang semula di sebut Tiko (Da Ge dalam bahasa Mandarin) yang artinya “Kakak” menjadi pemimpin komunitas mereka. Selanjutnya pada zaman kolonial Belanda, para ketua Tionghoa tersebut diberi pangkat titular sebagai Letnan dan Kapten China (Lieutenant dan Kapitein de Chinezen).

Mary F Somers Heidhues mencatat, migrasi orang Tionghoa sempat terhenti pada akhir abad ke-18 akibat gangguan bajak laut dan gangguan penyakit beri-beri. Demikian pula pada suatu masa di abad ke-19 gangguan wabah penyakit sempat menghambat laju migrasi dari Tiongkok ke Bangka.

Umumnya para perantau tersebut datang akibat informasi getok tular dari teman sekampung yang sudah terlebih dahulu merantau ke Bangka. Tetapi, untuk berangkat, biasanya mereka harus melalui agen tenaga kerja seperti PJTKI di Indonesia. Agen tersebut ada yang berpusat di Singapura, Tiongkok ataupun Bangka.

Perlahan tapi pasti, jumlah migran tersebut terus bertambah hingga akhirnya kaum wanita turut pula berdatangan ke Bangka. Mereka pun beranak-pinak di Bangka-Belitung hingga kini.

Nyaris serupa dengan nasib TKI yang disiksa di negeri jiran, demikian pula para perantau yang menjadi kuli tambang Timah Tionghoa. Mereka kerap diperlakukan tidak manusiawi, dijebak dengan utang dari mandor, disediakan fasilitas judi dan permadatan sehingga semakin terjebak lilitan utang serta pelbagai kekerasan lain.

Alhasil, aksi perlawanan dan terkadang berujung pada pemberontakan sering terjadi. Salah satu tokoh Melayu Depati Amir yang menentang Belanda, menurut banyak sumber juga dibantu oleh para tokoh-tokoh Tionghoa setempat. Demikian pula pada akhir abad ke-19, terjadi pemberontakan Liu Ngie melawan kekuasaan Belanda yang dimotori Tionghoa Bangka.

Bahkan, pada masa kemerdekaan pun, seorang tokoh Tionghoa yakni Tony Wen menembus blokade Belanda untuk menyelundupkan opium ke Singapura dan dari sana menyelundupkan senjata untuk membantu perjuangan Republik Indonesia. Dia sempat memimpin sejumlah laskar relawan internasional untuk melawan Belanda dalam perang kemerdekaan di Jawa.

Kini nama Tony Wen diabadikan sebagai nama jalan di Kota Pangkal Pinang. Penghargaan tersebut diberikan menyusul dinamakannya Bandara Pangkal Pinang dengan nama Depati Amir.

Waktu berlalu,Di Bangka pun kini terdapat museum Budaya Tionghoa khususnya suku Hakka. Ribuan klenteng besar dan kecil, rumah antik berusia ratusan tahun, dan pola hidup tradisional merupakan warisan budaya yang unik dan tiada duanya.

Hongky sebagai buyut dari Kapitein Tionghoa Lay Nam Chen menghuni rumah berusia 150 tahun lebih di pusat Kota Pangkal Pinang. Bangunan kayu antik peninggalan para leluhur migran dari Tiongkok masih dapat dilihat di sana-sini. Rumah induk, halaman tengah dan bagian belakang yang luas merupakan pakem dari bangunan masa itu.

Salah satu tempat yang masih utuh menggambarkan kehidupan seabad silam adalah Kampung Gedong sekitar 90 kilometer sebelah utara Kota Pangkal Pinang atau hanya sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Sungai Liat. Perkampungan tersebut adalah komunitas Tionghoa keturunan enam bos timah yang dahulu menguasai kawasan Parit 6 atau Liuk Phun Thew dalam dialek Hakka.

Deretan rumah kayu antik, ornamen Tionghoa, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, dan klenteng pelindung desa merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan alam tropis Pulau Bangka. Pemandangan tersebut mengingatkan kita pada film-film tahun 1940-an. Seperti bagian kota tua di Penang, Malaka, dan China Town, Singapura, demikianlah suasana Kampung Gedong.

Suasana di permukiman yang hanya dihuni sekitar 50 keluarga itu sangat sepi dan tenang. A Kiong, warga setempat mengatakan, warga di situ selalu berkumpul di sore hari.

“Setiap hari besar seperti Imlek, Peh Cun, Qing Ming pasti digunakan untuk berkumpul warga,” kata A Kiong yang sehari-hari membuat kerupuk ikan.

Dalam sejumlah perayaan, sering kali diarak lakon Sun Go Kong (Sun Wu Gong) yang menjadi Dewa Pelindung Kampung Gedong. Menurut Hongky, sejak tahun 2000, Kampung Gedong ditetapkan sebagai desa wisata.

Namun, perlahan tapi pasti, generasi muda Kampung Gedong yang berpendidikan baik mulai meninggalkan kampung halaman mereka. Yang unik adalah, kaum muda yang tersisa kembali bekerja di tambang timah tradisional (kerap disebut Tambang Inkonvensional atau TI) mengikut jejak langkah nenek moyang mereka dengan teknik yang kurang lebih sama.

Sedangkan berkebun lada sudah tidak lagi dilakukan karena harga lada yang telanjur hancur.Tampaknya sejarah Tionghoa dan timah di Bangka sedang terulang kembali ...

sejarah singkat pulau bangka

Awal Mula Pulau Bangka

Pulau Bangka adalah pulau besar yang dikeliling oleh banyak pulau-pulau kecil, menyimpan banyak cerita sejarah dan peradaban yang besar sejak zaman dahulu. Letaknya yang strategis dengan kekayaan alam yang melimpah sejak pertama kali mampu direkam oleh catatan sejarah membuktikan bahwa Pulau Bangka adalah pulau yang bernilai historisitas tinggi.

Sebagai bagian dari sejarah besar, runtutan peristiwa yang pernah terjadi yang berkaitan dengan daerah ini juga menjadi perdebatan. Tidak saja perdebatan berkaitan dengan sejarah mula secara geografis, tetapi juga interaksi masyarakat didalamnya yang masih terus diperdebatkan oleh para peneliti dan tetua masyarakat didalamnya. Perdebatan tentang asal-usul kata Bangka sendiri adalah perdebatan yang belum final hingga sekarang.


Banyak versi yang mencoba memberikan interpretasi atas kata bangka, namun bukti fisik tentang asal-usul kata ini sendiri belum ditemukan kecuali usaha banyak ahli untuk menghubungkan analisis mereka dengan berbagai peristiwa. Versi sejarah yang tampaknya paling kuat adalah versi sejarah Kota Kapur. Ditemukannya bukti sejarah otentik berupa prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 masehi memulai perdebatan tersebut secara ilimiah. Prasasti yang ditemuka di Sungai Menduk (Kabupaten Bangka Barat Sekarang) tersebut berisikan 240 kata bahasa Sanskerta. Prasasti tersebut berisi tentang peringatan kepada masyarakat di wilayah Kerajaan Sriwijaya tentang larangan untuk melakukan pemberontakan. Peringatan tersebut jelas dibuat oleh penguasa kerajaan Sriwijaya pada masa itu sehingga dipekirakan bahwa Pulau Bangka pada masa Kerajaan Sriwijaya telah menjadi pusat aktivitas yang ramai. Dalam prasasti Kota Kapur, sama sekali tidak disebutkan kata Bangka. Namun para ahli sejarah banyak menghubungkan Bahasa Sanskerta yang digunakan pada prasasti Kota Kapur dengan kata vanca yang kemudian mengalami perubahan kata menjadi Bangka tampaknya bisa diterima dengan nalar.

Versi lain menyebutkan bahwa kata Bangka berasal dari kata Bangkai yang menunjukan bahwa kata bangka adala tempat pmbuangan bangkai pada masa penjajahan. Meski demikian, asal-usul kata ini tidak memiliki bukti ilmiah sehingga anlisis versi Kota Kapur di atas lebih bisa diterima oleh masyarakat kebanyakan. Sebuah majalah pada tahun 1846 yang bernama Tijdschrift voor Nederlandsch Indie memuat tulisan bahwa daerah yang disebut Banca adala pulau yang dulunya bernama Chinapata atau China-Batto (Chinapata diduga adala daerah yang dulu pernah dilaporkan oleh seorang pelaut bernama Jans Huyghens van Linschoteen pada tahun 1595 di Amsterdam). Dulu daerah yang disebut Banca mencakup Palembang dan meluas ke arah barat yang kemudian disebut Bangka-Hulu dan kemudian mengalami perubaha dialek menjadi Bengkulu sekarang ini. Ke arah Sumatera Timur, terdapat daerah yang bernama Bangka yang keyakinan banyak orangbtentang kemungkinan ini tidak nampak terlau besar sehingga belakangan banyak orang yang bahkan tidak pernah mendengar cerita ini.

Pulau Bangka dan Sejarah

Belanda pertama kali mendarat di Nusantara tepatnya di Banten Pulau Jawa pada tahun 1596 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman. Cukup lama setelah itu belanda baru melirik Pulau Bangka sebaga salah satu daerah potensial penghasil timah. Ketika Belanda ingin masuk ke Pulau Bangka daerah ini masuk pada kekuasaan Kesultanan Palembang. Hubungan pertama antara VOC dan daerah Bangka Belitung terjadi pertama kalinya pada tahun 1668. Pulau Bangka pada masa itu berada dibawah kekuasaan Sultan Abdurrachman.

Sebuah catatan kontrak antara Belanda dan Sultan Palembang pada tanggal 10 juli 1668 sebagaimana disebutkan dalam buku Kepulauan Bangka Belitung dengan editor Achmad Sahabudin, dan kawan-kawan (2003) menyebutkan bahwa Kesultanan Palembang mengakui Belanda dengan usaha monopoli timahnya dan Belanda akan mlindungi Kesultanan Palembang. Berikutnya pada tahun 1722, Kesultanan Palembang yang berada dibawah pemerintahan Sultan Mahmud Kamarudin mengadakan perjanjian yang berisi ketentuan bahwa VOC memegang hak monopoli perdagangan atas timah. Tahun-tahun setelahnya menunjukan hubungan dagang Belanda dan Kesultanan Palembang berlangsung sangat buruk, sebagai mana Ratu Mahmud Kamarudin gagal memerintah internalnya.

Awal Penambangan Timah
Penemuan timah petama kali di pulau Bangka memiliki beberapa versi. Setidaknya catatanya yang ditulis oleh Heidhues menyebutkan tiga versi penemuan, yakni pada tahun 1707, 1709, dan tahun 1711. timah pada masa awal penemuan tersebut merupakan komoditas yang sangat mudah dilihat karena timah terdapat dimana-mana. Horsfield dalam Heidhues mengatakan bahwa timah dengan mudah terlihat ketika penduduk setempat melakukan pembakaran ladang-ladang ubtuk ditanami oleh penduduk setempat. Logam timah tampak meleleh ketika penduduk melakukan pembakaran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya timah pada masa awal abad ke-17 merupakan sebuah komoditas yang midah didapatkan. Hal ini menandakan betapa banyak kandungan timah yang ada di Pulau ini. Apalagi masa penambangan timah yang berlangsung selama 4 abad lebih dan hingga kini masa banyak penambangan timah yang dilakukan di berbagai tempat oleh penduduk dan beberapa perusahaan besar. Orang yang dianggap memperkenalkan penambangan timah di Pulau Bangka adalah orang-orang johor yang memiliki garis keturunan Cina yang beragama Islam dan juga merupakan kerabat Kesultanan Palembang. Abdulhayat dalam keluarga tersebut dan laki-lakinya yang bernama Wan Akub merupaka nama-nama yang banyak disebut dan dianggap merupaka orang-orang yang mempelopori penemuan timah di Mentok dan Pulau Bangka pada umumnya. Heidhues menyebutkan bahwa pada masuknya Orang-Orang johor tersebut, juga datang seorang Cina bernama Oen Asing (Boen Asiong) yang melakukan penambangan timah di kampung Belo Mentok. Orang ini pula yang melakukan berbagai macam gerakan pembaruan dalam penambangan timah. Didatangkan pada masa itu pekerja dari Cina, memperkenalkan penambangan timah dengan menggunakan mesin, teknik perapian untuk membakar timah yang lebih efisien, dan melakukan standarisasi bentuk dan berat timah.

Pada masa ini pula penambangan timah di Bangka mengenal istilah kuli dan kongsi. Kuli dalam ejaan lama koeli berasal dari bahasa Tamil yang artinya orang yang disewa. Sedangkan kongsi berasal dari bahasa Hakka, yaitu kwung-sze yang artinya penanganan atas dasar usaha usaha dan kepentingan bersama dengan tujuan mendapatkan keuntungan ekonomi bersama. Mulai dipekenalkan pula istilah tauke atau towkay yang artinya bos dan sinkeh yang artinya kuli Cina yang terikat pada tahun pertama dan bebas pada tahun kedua dan seterusnya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sejarah penambangan timah pada abad ke-17 dan setelahnya adalah sejarah penambangan timah yang dilakukan oleh orang-orang Cina. Impor pekerja Cina dalam jumlah besar-besaran menyebabkan penduduk Bangka hingga sekarang juga banyak diwarnai kehidupan orang-orang Cina yang mula-mula datang untuk bekerja sebagai penambang pada akhirnya ikut memberikan andil dalam proses perkembangan kultural masyarakat lokal.

Tidak mengherankan jika saat ini penduduk Cina di Pulau Bangka mencapai 30 persen dari total jumlah penduduk propinsi ini. Sebagai salah satu bukti bahwa masyarakat etnis Cina sudah ada sejak dulu, masyarakat etnis Cina dapat dijumpai di berbagai pelosok di daerah Pulau ini. Sebutlah misalnya Mentok, Pangkalpinang, Toboali, Sungailiat, Belinyu, Koba, Sungiselan Jebus dan kampung-kampung kawasa penambang timah berpenduduk ramai.

Penduduk Asli Pulau Bangka

Definisi tenteng penduduk asli Pulau Bangka hingga kini masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa penduduk asli Pulau ini adalah Suku Melayu, padahal pembahasan sebelumnya nyebutkan bahwa Suku Melayu adalah eksodus secara perlahan-lahan penduduk yang datang dari kerajaan johor dan Kerajaan Lingga-Riau.

Sejarah dipulau ini juga diwarnai dengan kedatangan orang-orang bugis yang menjadi lanun dan menguasai dan menguasai pulau-pulau kecil dan daerah pesisir Bangka. Cina juga adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan perjalanan perkembangan demografis pulau ini. Sebuah buku yang ditebitkan pada tahun 1954 (anonim) berjudul Republik Indonesia Propinsi Sumatera Selatan menuliskan bahwa penduduk asli Pulau Bangka adalah mereka yang merupakan hasil pertalian perkawinan antara pelaut-pelaut yang datang dari Jawa, Palembang, Minangkabau, dan Bugis yang menjelma menjadi penduduk asli yang baru. Jadi tampaknya Pulau Bangka dan Belitung pada mulanya tidak berpenghuni, melainkan didatangi oleh penduduk dari daerah lain dan kemudian membentuk kultur khas daerah ini.

Pada sekitar pertengahan abad ke-17, pasukan dari Kerajaan johor dan Kerajaan Minang datang untuk membantu penguasa setempat menumpas para lanun-lanun yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kedua Kerajaan ini mendarat di Toboali dimana kemudian Kerajaan Minang menetap dan mempengaruhi budaya dan bahasa peduduk setempat, sedangkan Pasukan dari Kerajaan johor menuju Mentok dan kemudian menetap serta memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan budaya dan bahasa penduduk Mentok dan sekitarnya.

Pengaruh Kerajaan Minang di Toboali sangat terasa hingga sekarang, misalnya dari sudut bahasa yang cenderung mengganti huruf S dengan H. Hal ini dapat di indetifisikasi pada penggunaan bahasa yang digunakan di Minang. Pengaruh lain misalnya pada tradisi makanan seperti lemang di Toboali yang merupakan makanan khas Minang. Sedangkan pengaruh Melayu Johor yang sangat kuat ditampakkan pada ciri khas ke-Melayu-an yang sangat kental di Mentok, misalnya pada bahasa yang cenderung menggunakan E pepet, tradisi masyarakat Mentok juga mengidentifikasikan diri dengan tradisi Melayu Malaysia. Sementara itu, Heidhues menyebutkan bahwa seorang pejabat Belanda bernama J. Van den Bogaart datang ke Pulau Bangka pada tahun 1803 membagi penduduk Bangka pada waktu itu dalam 4 kasta, yaitu :
1. Cina,
2. Melayu,
3. Orang Bukit (disebut juga Orang Gunung/Orang Darat),
4. Orang Laut (Orang sekak.

Rabu, 05 Januari 2011

resi 1 2 3 test

waaah . baru belajar bikin blog , tellat ga yah ? gapapa deh , mending telat dari pada ga tau sama sekali , yoi ga bebeh ? hahha .
duh , saya rada bingung nih makenya gimana . tapi lama-lama yakin pasti lancar . hihi . akhirnya punya blog juga (remaja norak nih :p) .